Thursday, May 30, 2013

Hilangnya peran Anak Beru pada Suku Batak Karo

Hello pembaca setia blog badia, kali ini badia mau mengeluarkan pendapat badia mengenai sebuah adat yang dulunya dipegang teguh dalam sebuah acara, namun kini telah hilang seiring berjalannya waktu. Jadi ceritanya gini, kemarin badia pergi kesebuah acara pesta perkawinan karo, masih saudara badia sendiri sih, biasanya setiap acara pesta perkawinan para tamu datang, kemudian menyalami sang pengantin dan kedua orang tua mempelai pria dan wanita, setelah itu menikmati santapan yang telah disediakan. tak jauh beda dengan itu badia pun berprinsip "Datang", "Makan", "Menyalami kedua orang tua mempelai", dan "pulang", biasanya untuk orang medan lebih dikenal dengan SMP (Siap Makan Pulang).
gambar ini hanyalah ilustrasi
Namun kalian tau nggak apa yang badia saksikan disana ?, makanan yang disediakan ternyata telah di cateringkan, sebenarnya nggak masalah di cateringkan, namun ciri khas gotong royong dari karo itu sendiri seakan-akan telah hilang di makan waktu. memang sebenarnya capek jika pihak penyelenggara pesta perkawinan tersebut memasak sendiri makanan untuk para tamu yang datang, namun disitulah inti dari gotong  royong dan ciri khas orang karo tersebut.
Disinilah peran Anak Beru dibutuhkan, memang untuk urusan masak memasak atau cakap kasarnya menjadi babu adalah peran Anak Beru, Anak Beru sendiri jika diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah anak perempuan, jadi di Abad ke 20 ini pada kemana semua anak beru karo ?.
Menurut pantauan badia sendiri, tinggal sedirkit anak perempuan karo yang mau mengerjakan pekerjaan dapur, jadi wajarlah anak perempuan jaman sekarang itu tidak bisa masak, beres-beres rumah saja malas, anak perempuan sekarang mah maunya jalan ke mal, mau punya pacar yang punya mobil, pokoknya semua serba mewah.
Dulu sekitar tahun 90'an untuk urusan masak-memasak dan makanan masih dikerjakan oleh anak beru, tapi kalau sekarang sedikit kemungkinan untuk bisa melihat bagaimana peran anak beru melakukan proses masak-memasak itu, kalau dikota medan sih semua sudah serba catering.
Yang menjadi tanda tanya besar buat badia adalah mau jadi apa Suku Batak Karo 10 Tahun kedepan jika untuk urusan masak-memasak saja kita berikan kepada pihak catering ?, badia khawatir nantinya budaya karo ini lama kelamaan akan hilang.
Buat teman-teman yang udah baca tulisan badia ini ngerasa nggak seperti itu ?
Sampai disini dulu ya postingan badia kali ini sampai ketemu dipostingan selanjutnya.

2 comments:

  1. Wah nyong ngerasain hal yang sama kaya yang kau rasakan. kalau di Jawa, masak buat acara pernikahan begitu namanya "rewang". Salam kenal ya, nyong dari Pekalongan.
    ditunggu komentarnya di blog punya nyong..
    http://www.ruangbatik.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. berarti di pernikahan di Jawa juga sudah mulai menggunakan catering juga ya, ada baiknya kita harus melestarikan budaya kita ya !

    ReplyDelete