Friday, September 12, 2014

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Extended (Review)

Halo pembaca setia blog badia, hari ini badia mau share sedikit tentang film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, awal mula melihat poster film ini badia pikir filmnya seperti film Titanic, ada satu orang cewek yang disukai oleh dua orang pria, trus tiba-tiba kapalnya menabrak batu karang, dan kemudian tenggelam.
Namun prediksi badia tentang film Tengelamnya Kapal Van Der Wijck itu salah, salah seorang temanku mengatakan filmnya enak lho badia, namun aku tetap saja tidak peduli, aku berpikir masa film kayak gitu dibilang enak. namun setelah iklan versi extended-nya keluar badia bertanya-tanya seperti apa sih keseruan film ini ?, tanpa pikir panjang badia pun langsung nonton ke Bioskop untuk melihat versi extended dari Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Namun alur cerita yang semula tertanam di pikiranku sontak terbalik 180 derajat, ternyata film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck itu memang tentang kisah percintaan tapi tidak seperti yang badia pikirkan.
Makasar tahun 1930, seorang pemuda bernama Zainudin (Herjunot Ali) pergi meninggalkan kampungnya menuju ke tanah kelahiran bapaknya di Batipuh Padang Panjang, Disana selain melihat keindahan alamnya Zainudin bertemu dengan seorang bunga desa bernama Hayati (Pevita Pearce), Hayati tinggal dengan datuk di desa itu, dan seiring berjalannya waktu mereka berdua jatuh cinta, namun apa daya adat istiadat yang kuat pun meruntuhkan kisah cinta suci mereka berdua, Zainudin adalah keturunan melarat yang tak berbangsa, sedangkan Hayati keturunan bangsawan.
Lamaran Zainudin pun ditolak oleh keluarga Hayati, dan Hayati pun dipaksa menikah dengan Aziz (Reza Rahadian) seorang laki-laki keturunan bangsawan dan berbangsa yang ingin menikahinya, Zainudin pun memutuskan untuk berjuang dan pergi merantau ke tanah jawa demi bangkit dan melawan keterpurukan cinta-nya, Zainudin pun mengembangkan bakat menulisnya hingga akhirnya ia berhasil menjadi penulis terkenal dan mashyur dan diterima di masyarakat seluruh Nusantara.
Tetapi sebuah kenyataan kembali datang kepada diri seorang Zainudin ditengah geliman harta dan kemashyurannya. Dalam sebuah pertunjukan opera, Zainudin kembali bertemu Hayati, namun kali ini bersama Aziz, suaminya. Perkawinan harta dan kecantikan bertemu dengan cinta suci yang tak lekang waktu. Pada akhirnya kitsah cinta Zainudin dan Hayati menemui ujian terberatnya, dalam sebuah tragedi pelayaran kapal Van Der Wijck.

itu sedikit alur cerita yang badia ringkas, namun setelah duduk manis dan menonton kisah cinta tersebut waktu 3 jam 20 Menit tidak terasa begitu lama, alur film yang mengalir membuat para penonton menikmati detik demi detik kisah yang begitu mendalam.
Drama pada film ini memang terkesan jadul, tapi penuh dengan kisah cinta yang mendalam, mungkin kalau dipikir-pikir memang begitulah orang jatuh cinta pada zaman itu, beda dengan sekarang kalau sedang jatuh cinta paling stalking account social media si doi hehehehe.
Sinematography yang disajikan pada film ini juga bagus, kecuali pada adegan Kapal Van Der Wijck yang masih kurang dibagian editingnya, dari segi jajaran pemeran juga sangat tidak mengecewakan, Reza Rahadian memang sudah banyak terlibat dalam berbagai peran di dunia hiburan dan tentu saja perannya sebagai Aziz memang tidak mengecewakan, begitu pun Herjunot Ali, yang berperan sebagai Zainudin logat padangnya pun begitu kental, sebagai orang medan atau yang tinggal disumatra saya suka logat yang dibawakan oleh Herjunot Ali difilm ini.
Well intinya Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck bukan sebuah film cinta layaknya Titanic !, tapi sebuah kisah cinta suci yang seolah-olah sering terjadi didalam kehidupan nyata ini, dengan mengambil latar belakang tahun 30an semakin menambah kesan klasik dan alur maju yang disajikan membuat semua penonton terhanyut dalam setiap menit dan detik filmnya.
sampai disini dulu ya postingan badia kali ini, sampai ketemu dipostingan berikutnya.

0 comments:

Post a Comment