Wednesday, March 18, 2015

Menjadi Pandu Sidang MPL PGI untuk bisa menjelajah Kalimantan

 

Halo pembaca setia blog Badia, kali ini aku mau membagikan beberapa pengalaman seru selama aku pergi ke Kalimantan, semua itu bermula ketika aku melihat sebuah banner yang memberikan informasi tentang seleksi Pandu Sidang MPL PGI di Malinau (Kalimantan Utara), ada beberapa persyaratan yang harus dilengkapi untuk ikut seleksi pandu tersebut, dan aku pun melengkapi semua berkas-berkas yang diperlukan dan mengirim ke email yang telah dituliskan dalam banner tersebut.

Tujuanku mendaftar sebagai Pandu itu sebenarnya cuma satu, yaitu ingin menginjakan kaki di Pulau Kalimantan, dan setelah menunggu beberapa waktu akhirnya pengumuman nama-nama Pandu yang lulus pun di umumkan, dan tanpa ku sangka namaku adalah salah satunya, ada sekitar 12 orang dari seluruh Indonesia yang terpilih untuk menjadi pandu pada Sidang MPL PGI di Malinau ini.
Walaupun aku sudah lulus seleksi namun ada persyaratan lainnya, karena aku sendiri berasal dari kota Medan, oleh karena itu transportasi dari Medan - Jakarta dan sebaliknya ditanggung sendiri, setelah berpikir dan menghitung budgeting ternyata uang tabunganku masih bisa meng-cover semua biaya transportasi itu, dan aku pun mengiyakan semua persyaratan yang telah diberikan kepadaku.
Sidang MPL PGI di Malinau Kalimantan Utara berlangsung dari tanggal 6-9 Maret 2015, namun karena ada pelatihan buat Pandu oleh karena itu kami ditugaskan untuk datang di lokasi pada tanggal 2 Maret 2015, dan di Tanggal 1 Maret 2015 aku pun berangkat dari Medan menuju Jakarta, perjalanan ku yang seharusnya dimulai pada pukul 21.00 WIB harus dipercepat menjadi 18.30 WIB, untung lah maskapai berlogo singa ini tidak men-delay jadwal penerbanganku dan malah mempercepatnya.

Jam menunjukan pukul 21.30 WIB dan jadwal penerbanganku dari Jakarta menuju Balikpapan - Tarakan dimulai pada pukul 06.00 WIB dan aku juga harus bertemu dengan 2 teman pandu yang berdomisili dari Jakarta bernama Cynthia Br Simbolon dan Pdt Anri Nababan, keduanya memang orang batak dan pertama kali bertemu kami hanya biasa-biasa saja, Jam menunjukan pukul 02.30 WIB Cynthia pun muncul di Terminal 1A Soekarno Hatta, kedatangannya sangat mengganggu jam tidurku, oh iya baru pertama kali itu aku merasakan yang namanya tidur di Bandara, ternyata tidur di Bandara itu keren juga lho hahahaha....., Jam menunjukan pukul 04.00 teman panduku yang terakhir Pdt Anri Nababan pun tiba di Bandara, sehingga kami pun memutuskan untuk check-in dan menunggu di ruang tunggu.
Pesawat kami pun Take Off, dan kami mengobrol sambil bercanda, disepanjang perjalanan yang kami lakukan hanyalah tidur, begitu kami tiba di Balikpapan kami menyempatkan untuk sarapan ala kadarnya karena harga makanan di Bandara yang cukup mahal, dari Balikpapan kami pun melanjutkan penerbangan kami ke Tarakan, hampir sama seperti ke Balikpapan sepanjang perjalanan kami hanya tidur bahkan kami hampir tak tahu kalau waktunya pesawat untuk landing.
Kami Tiba di Tarakan
Sesampainya di Tarakan, sudah ada Panitia Transit yang sudah menunggu kedatangan kami, nah ternyata dari Tarakan menuju Malinau (Kalimantan Utara) kami menggunakan transportasi laut kemudian memasuki area sungai, oleh karena itu kami dianjurkan untuk menaiki Speedboat, bahkan waktu yang ditempuh dari Tarakan menuju Malinau dengan menggunakan Speedboat adalah 3,5 Jam, luar biasa lama dan jauh ya, didalam perjalanan menggunakan Speedboat bokongku udah pegel-pegel udah terlalu lama duduk nih, selain itu aku juga mencoba untuk beristirahat lagi dan berharap ketika aku bangun dari tidur aku sudah sampai di Malinau, ternyata ekspetasi ku salah, ketika aku terbangun juga belum sampai di Malinau.
Jam menunjukan 17.30 WITA, Akhirnya kami sampai juga di Pelabuhan Malinau, disana sudah ada Bapak Sergius yang sudah menanti kedatangan kami, ada berapa orang pandunya ? tanya pak Sergius kepada kami "Ada 3 orang pak" jawabku "Anda namanya siapa ya ?" Pak Sergius bertanya sambil menyalamiku "Saya Badia pak !" Jawabku, kemudian Pak Sergius menjawab "Saya kira yang namanya Badia itu cewek lho !"  plakk gue menutup mata dan mengalihkan ke pembicaraan yang lain.
Kami pun beranjak menaiki tangga agar bisa menuju daratan, sesampainya diatas sesuatu yang tak terduga mendatangi kami, aku melihat ada beberapa orang yang telah Stand By diatas sana dengan pakaian adat dayak dan alat musik tradisional dayak sudah terpasang dengan lengkap, dan ada 3 orang suku dayak yang datang menghampiri kami bertiga, aku pun heran ternyata ini merupakan prosesi penyambutan suku dayak kepada kami Pandu yang terpilih, aku hanya bisa diam dan membisu, karena aku tidak menyangka akan disambut dengan sambutan sebesar dan semewah ini. satu orang suku dayak mengalungkan kalung khas dayak di leherku kemudian beliau berkata "Selamat datang pak, semoga Tuhan memberkati" busett gue langsung semakin gugup !, selanjutnya kami diajak berjalan kedepan dan Pak Sergius mengatakan setelah ini kalian lihat suku dayaknya berperang ya ini sambutan dari mereka, Disitu kadang saya merasa syok !, didalam hatiku aku berkata aku ini bukan siapa-siapa lho masa harus disambut dengan semewah ini !, dan tari perang-perangan yang disuguhkan kepada ku begitu mengagumkan, biasanya di Medan sering lihat tari-tarian Tor-tor dan sejenisnya namun kali ini, Aku disambut dengan tari perang-perangan dari suku dayak, keren.
Setelah acara penyambutan itu kami diantar ke rumah tempat penginapan yang telah disediakan oleh panitia setempat, sesampainya disana ternyata kami bertiga menginap disebuah TK yang telah dirombak menjadi tempat penginapan, walaupun kecil tapi kami senang bisa tinggal disitu.
Selama 3 hari kami berkumpul dengan Pandu lokal, yaitu pandu yang berasal dari Malinau sendiri, melalui perkumpulan itu kami dilatih lagi agar kami saling kenal dan bisa bekerja dengan baik satu sama lain, dan ternyata suhu di Malinau atau di Kalimantan itu sangat berbeda dengan di Medan, panasnya sangat menyengat, sampai-sampai kulit Pandu yang dari Jakarta terbakar dan mengelupas, sedangkan kulitku menjadi agak hitam, tapi itu tidak menjadi masalah buatku karena itu adalah kenang-kenangan dari Malinau.
Foto kiriman Badia Tarigan (@badiacoolonline) pada
Foto kiriman Badia Tarigan (@badiacoolonline) pada
Hari ke 4 kami mulai melakukan melaksanakan tugas kami sebagai Pandu, kami menjemput dan melayani para peserta yang datang untuk mengikuti sidang, kami semua berbagi tugas, walaupun sudah dibagi tapi masih saja banyak kendala yang dihadapi, namun itu semua bisa kami atasi dan seluruh sidang pun dari hari pertama sampai hari ke 4 berjalan dengan baik.
Ternyata oh ternyata walaupun acaranya disebut sebagai "Sidang" selalu saja ada waktu yang disisakan beberapa jam yang namanya "Wisata", harus ku akui, aku pun sangat senang dengan yang namanya Wisata, apa lagi Wisata Kuliner hmmm hahahaha, lanjut !, eniwe aku menyempatkan untuk mengikuti rombongan peserta yang akan pergi ke tempat Wisata di Malinau, aku pun harus meninggalakan teman-teman pandu yang lain lantaran jadwal kepulanganku ke tempat asal lebih cepat satu hari dibandingkan teman-teman pandu yang lain.
Aku pun dibawa ke salah satu desa (aku lupa namanya) disana terdapat rumah adat para suku dayak, selain itu terdapat juga sebuah rumah yang digunakan para warga untuk acara adat, yang dinamakan Lanin Adat, tidak hanya itu saja aku dan rombongan juga menyempatkan untuk melihat suku dayak yang memiliki lubang telinga yang besar, namun sayang kami hanya sempat melihat seorang nenek yang memiliki lubang telinga yang tidak terlalu besar juga namun cukup besar dan itu cukup untuk membuatku terhibur.
Foto kiriman Badia Tarigan (@badiacoolonline) pada
Lamin Adat (tempat warga desa ini membuat acara adat)
Foto kiriman Badia Tarigan (@badiacoolonline) pada
Lubang di telinga nenek ini lumayan lebar juga ya
Wisata itu pun harus berakhir karena waktu juga sudah mulai sore dan hari itu acara terakhir adalah ibadah penutup, well dengan berakhirnya acara itu, maka aku pun harus berpamitan dengan teman-teman pandu yang berasal dari Malinau dan teman-teman pandu nasional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sedih rasanya harus berpisah dengan kalian, tapi hari-hari yang telah kita lalui bersama merupakan sebuah pengalaman yang tak ternilai harganya, walaupun kita baru pertama kali bertemu di Sidang MPL PGI namun selama aku melihat Kristus didalam kamu, aku percaya kita pasti akan menjadi sahabat sejati !.
Keesokan harinya aku pun pulang, teman-teman satu penginapan dengan ku melepas kepergianku dengan beberapa Pandu yang juga pulang bersamaku, aku ingat tawa canda itu, terasa sangat hangat sekali berada disebuah penginapan TK yang kita tempati, namun kita juga harus berpisah untuk menjalani kehidupan kita masing-masing.
Disinilah tempat penginapanku selama 9 hari di Malinau Kaltara dan inilah kami ber-enam (kecuali cewek yang paling kanan) yang menginap di sekolah TK (PAUD)
Sesampainya di Lubuk Pakam aku rindu dengan tawa canda teman-teman Pandu, rindu dengan panasnya kalimantan yang sangat menyengat, rindu dengan keramahan orang-orang di Malinau, aku berharap suatu hari nanti bisa pergi lagi kesana.
Sampai disini dulu ya postingan Badia kali ini, sampai ketemu dipostingan berikutnya.

0 comments:

Post a Comment