Tuesday, April 21, 2015

Review Film Bulan Diatas Kuburan

Halo pembaca setia blog Badia, membaca judul film Bulan Diatas Kuburan pasti banyak orang mengira kalau film ini ber-genre Horor !, kalian salah ternyata film ini #BukanFilmHoror, namun sebuah film drama yang cukup menyentuh para penontonnya.
Adalah Sahat (Rio Dewanto), seorang pemuda yang berasal dari Pulau Samosir Sumatra Utara, Sahat punya bakat menulis dan mengirimkan naskahnya ke Jakarta, namun tidak ada hasil keputusan dari pihak Jakarta apakah naskah tulisannya akan dicetak atau tidak sehingga sahat pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta mencari jawaban atas naskahnya, namun teman Sahat bernama Tigor (Donny Alamsyah) juga ingin ikut mengadu nasib di Jakarta, Tigor yang sehari-harinya hanya berprofesi sebagai sopir angkot di Samosir juga ingin mencari pekerjaan yang baru di Jakarta.
Sesampainya di Jakarta mereka berjumpa dengan Sabar (Tio Pakusadewo) yang merupakan orang satu kampung di Samosir, Sahat pergi ke kantor penerbit tempat naskahnya dikirimkan, namun apa daya ternyata hasilnya diluar dari apa yang Sahat harapkan, namun Sahat bertemu dengan Mona (Atiqah Hasiholan) anak orang kaya, dari situ Sahat menikahinya, hidupnya pun berubah drastis menjadi kaya namun berada dibawah kekuasaan Ayah Mona.
Tigor berprofesi sebagai Tukang kutip uang angkot, kemudian melalui jalan yang panjang dia diangkat menjadi debt kolektor, namun na'as dia dibunuh oleh temannya karena dianggap terlalu mencari muka kepada boss, Kehidupan Sahat dan Tigor yang dulunya saling tolong menolong namun harus terabaikan oleh karena kehidupan di Jakarta yang terlalu keras.
Bulan Diatas Kuburan merupakan sebuah film tahun 1973 yang kembali diangkat oleh Edo W F Sitanggang menjadi suatu kemasan yang baru, namun sepertinya banyak kekurangan dalam film ini, salah satunya adalah durasi filmnya yang hanya 120 menit ternyata sepertinya kurang padat untuk memberikan jalan cerita yang mudah untuk dimengerti oleh penonton atau bisa dibilang durasi 120 menit untuk film ini terlalu bertele-tele dalam memberikan alur ceritanya.
Selain itu Dirmawan Hatta sebagai Screenwriter film ini juga gagal dalam memberikan Klimaks pada filmnya, dimana tidak ada kejelasan dengan nasib adik Mona yang hamil diluar nikah, setelah itu ending yang terlalu begitu menyedihkan tanpa memberikan deskripsi yang jelas dengan nasib dari Ibu Sahat.
Dari jajaran pemainya tidak perlu diragukan lagi, Rio Dewanto sepertinya semakin melebarkan sayapnya di film layar lebar, selain itu aransemen musik yang dibuat oleh Viky Sianipar begitu pas di telinga, paduan alat musik khas batak dan karo juga mengalun dengan merdu.
Oleh karena itu Badia memberikan nilai (B-) untuk film Bulan Diatas Kuburan, sampai disini dulu ya postingan Badia kali ini sampai ketemu dipostingan berikutnya.

0 comments:

Post a Comment