Wednesday, May 25, 2016

Review Film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (2016)

Halo pembaca setia blog Badia, dipostingan kali ini Badia mau memberikan review film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara film ini mengambil lokasi syuting di NTT dan membahas mengenai Pluralisme oleh karena itu Badia sangat tertarik untuk menonton film ini, seperti apa kisahnya ?, berikut sinopsisnya.

Aisyah adalah seorang lulusan sarjana pendidikan yang sedang mencari pekerjaan, Aisyah bercita-cita menjadi seorang guru, ia pun sibuk mencari pekerjaan, hingga akhirnya Aisyah lulus menjadi pengajar disalah satu yayasan swasta, namun Aisyah harus mengajar jauh dari tempat tinggalnya yaitu di pulau NTT (Nusa Tenggara Timur). Meskipun ibu-nya tidak memberikan izin kepada Aisyah karena jaraknya yang begitu jauh, namun Aisyah bersikeras kalau dia akan baik-baik saja ketika berada disana.
Sesampainya disana Aisyah disambut dengan tari tradisional oleh kepala dusun setempat yang mayoritas beragama Katolik, namun sayang sekali bapak kepala dusun tidak mendapat kabar terbaru mengenai profil Aisyah, sehingga bapak kepala dusun menyangka Aisyah ini adalah seorang "suster", dan yang paling parahnya ketika acara penyambutan tersebut masyarakat didusun malah memasak babi sebagai menu makanannya, namun untungnya seorang anak laki-laki bernama Sikku yang kemudian menjadi murid Aisyah menawarkan Mie Instant untuk Aisyah.
Meskipun Aisyah menjadi orang yang minoritas ditempat tersebut namun hal itu tidak mengurangi niatnya yang memang ingin mengajar dan memberikan pendidikan untuk anak-anak di dusun tersebut, Hingga akhirnya Aisyah bertemu dengan seorang murid bernama Lordis Defam yang mengajak teman-temannya untuk tidak usah masuk sekolah karena menurut Lordis Defam kedatangan ibu Aisyah hanya ingin membakar gereja-gereja yang ada di NTT. Mampukah Aisyah mengatasi setiap permasalahan yang terjadi diantara murid-muridnya ?.
Dari awal film ini diputar, Badia sudah tertarik dengan awal ceritanya dimana Aisyah dan ibunya sangat dekat, selain itu Aisyah juga sedang menganggur dan berusaha untuk mencari pekerjaan, selain itu Badia juga sangat suka sekali dengan karakter Aisyah, seorang gadis yang memang cantik, udah gitu hatinya tulus banget untuk mengajar.
Jujur Prananto sebagai penulis skenario sangat memperhatikan setiap detail alur cerita, sehingga para penonton yang menonton film ini bisa mengerti konflik yang terjadi, dan yang paling bagusnya adalah film ini tidak hanya menunjukan bagaimana Aisyah menyesuaikan diri sebagai minoritas, tetapi juga sebaliknya masyarakat disana yang mayoritas juga turut berubah demi menghormati dan menghargai Aisyah sebagai tamu, guru, dan muslimah.
Selain itu kehadiran Arie Keriting yang berperan sebagai Pedro di film ini semakin menambah hiburan didalamnya, banyak juga adegan lucu yang dibuat oleh Arie Keriting sehingga membuat film ini semakin fun dan enak untuk ditonton, ada satu adegan yang paling Badia suka yaitu dimana masyarakat beserta Aisyah sedang melakukan doa makan, di adegan tersebut Badia melihat begitu indah dan damainya ketika melihat mereka berdoa meskipun berbeda agama, meskipun begitu Badia kurang menyukai ending dari film ini yang tidak klimaks, sangat disayangkan sekali ya, di ending film diceritakan Aisyah kembali ke kampung halamannya untuk merayakan lebaran, tapi apakah setelah itu Aisyah akan kembali ke NTT dan mengajar kembali ?, nah itu dia bagian ending yang sedikit kurang klimaks menurut Badia.  
Well oleh karena itu Badia memberikan nilai (B+) untuk film ini, Bagi teman-teman yang belum melihat trailer dari film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara kalian bisa melihat cuplikannya dibawah ini.
Sampai disini dulu ya postingan Badia kali ini, sampai ketemu dipostingan selanjutnya.

0 comments:

Post a Comment